Selasa, 07 Oktober 2014
Minggu, 15 Juni 2014
Resensi Film The Iron Lady
RISENSI FILM
The Iron Lady
Siapa bilang wanita tidak bisa memimpin pemerintahan
sebuah negara? Salah satu bukti nyata dan sosok legendaris yang menepis
anggapan tersebut adalah Margaret Thatcher. Sebagai seorang wanita yang
ambisius, Thatcher telah berhasil menjadi Perdana Menteri wanita pertama di
Inggris dan masa jabatannya pun terhitung paling lama di abad 20 ini, yaitu dari
4 Mei 1979 hingga 28 November 1990. Kebijakan ketat yang bertolak belakang
dengan serikat buruh, serta kegigihannya dalam menentang Uni Soviet membuat
Thatcher mendapat panggilan “Iron Lady”. Dari panggilan inilah judul film
garapan Phyllida Lloyd diambil.
Film The Iron Lady menceritakan tentang
kehidupan Margaret sejak masa remaja hingga beranjak menjadi wanita tua yang
mengidap dementia. Semasa remaja, Margaret selalu tertarik mendengar
pidato-pidato politik ayahnya yang pada saat itu menjabat sebagai anggota dewan
kota. Wanita yang terlahir di keluarga kelas menengah ini pun terinspirasi
untuk berkarir di dunia politik melalui partai konservatif dan berjuang untuk
memperoleh tempat di gedung parlemen Inggris. Tentunya, perjuangannya ini tidak
berjalan dengan mulus. Dalam dunia yang masih didominasi oleh pria, kehadiran
dan setiap pendapat yang dilontarkan dengan tegas oleh Margaret sering kali
diremehkan. Namun, dengan dukungan suaminya, Denis, Margaret pun berhasil
memanjat tangga kesuksesan politik hingga menjabat sebagai seorang Perdana
Menteri.
Karir Margaret sebagai seorang Perdana Menteri
dihiasi dengan beragam tantangan keras yang menguji kegigihan, keberanian, dan
ketegasannya sebagai seorang pemimpin. Dalam film ini, Lloyd memasukkan
kejadian-kejadian krusial selama masa jabatan Margaret, dari peningkatan jumlah
pengangguran dan anggaran ketat yang membawa kepada kerusuhan Brixton di tahun
1981, perang Falklands di tahun 1982, demonstrasi penambang dari tahun 1984
hingga 1985, hingga pengeboman Grand Hotel di Brighton pada saat Konferensi
Partai Konservatif 1984 yang hampir merenggut nyawa Margaret dan Denis.
Pemilihan Alur Cerita yang Menarik
Sejak Batman Begins yang digarap oleh
Christopher Nolan pada tahun 2005, saya belum menemukan film yang menggunakan
alur maju-mundur dengan sangat sempurna, sampai akhirnya The Iron Lady
muncul. Film ini diawali dengan penggambaran Margaret yang telah berusia 86
tahun dan menderita dementia, halusinasi, serta kondisi fisik yang menurun
akibat usia tua. Selama jalannya film, Margaret tua yang mulai mengingat-ingat
perjalanan karir politiknya menjadi pusat cerita. Transisi antara penggambaran
masa sekarang dengan memori-memori di masa lalu berhasil dieksekusi dengan baik
dan meminimalisasi tingkat kebingungan penonton.
Make-up yang digunakan oleh Meryl Streep untuk
menggambarkan versi tua Margaret pun terlihat sangat realistis, begitu juga
dengan aktingnya. Kebolehan aktris asal New Jersey, Amerika Serikat, ini memang
tidak perlu dipertanyakan lagi. Apalagi jumlah nominasi dan penghargaan yang
telah diraihnya bahkan sudah terlalu banyak untuk disebutkan satu per satu
dalam artikel ini. Ia telah meraih dua Academy Award, delapan Golden Globe, dua
Emmy Awards, dan masih banyak lagi. Dengan segudang prestasi tersebut, Streep
menjadi senjata jitu untuk memastikan penggambaran sosok legendaris Inggris
tersebut dieksekusi dengan sempurna. Setiap pelafalan kata dalam aksen
Inggris dan emosi yang dimunculkan, dari hasrat yang menggebu untuk menaklukkan
dunia politik di Inggris hingga setiap kesedihan dan kemarahan, terasa sangat
nyata.
Sayangnya, tidak semua orang menanggapi film ini
secara positif. Sejumlah anggota keluarga dan pendukung Margaret dikabarkan
telah mengungkapkan ketidaksenangannya terhadap penggambaran Margaret tua yang
terlihat rapuh dan linglung. Walaupun begitu, bagi saya pribadi, The
Iron Lady merupakan film drama sejarah yang patut ditonton. Apalagi film
ini menunjukkan perjuangan gigih seorang wanita untuk menjadi pemimpin yang
tegas di Inggris. Jadi, siapa bilang wanita tidak bisa memimpin?
Tanggal rilis:
13 Januari 2012
Genre:
Drama, Biografi
Drama, Biografi
Durasi:
105 menit
105 menit
Sutradara:
Phyllida Lloyd
Phyllida Lloyd
Pemeran:
Meryl Streep, Jim Broadbent, Richard E. Grant, Anthony Head
Meryl Streep, Jim Broadbent, Richard E. Grant, Anthony Head
Studio:
UK Film Council, Canal+
UK Film Council, Canal+
The Last Senja
Di sini. Di tempat ini kisah pedih itu berakhir. Tak banyak yang
berubah. Masih sama seperti empat tahun lalu. Saat dia memutuskan
hubungan di antara kami. Ya, hari itu pula terakhir kali Dini mendengar
panggilan kesayangannya dari lelaki itu. “Bidadari senja” itu
panggilannya dulu. Namun kini. Tak pernah ia dengar lagi panggilan itu.
“serasa baru kemarin kejadian itu” seru dini lirih. Ia memang masih
selalu menyisakan kenangan pahit itu di hatinya. Dan entah kenapa.
Fikirannya tak pernah lepas dari sosok Rio. Ya, Rio, lelaki yang telah
banyak membuatnya menangis dan terluka.
Dini hanya terdiam menghadap senja. Memandangi mentari yang kian tenggelam. Dia bungkam dengan berjuta khayalnya. Dan seketika butiran bening itu jatuh dari kelopak matanya yang indah. Angin senja yang berhembus kala itu membuat suasana kian sendu.
“bukankah sunset itu indah?”. sebaris kalimat itu membuyarkan tangis dini. Namun dini tetap bungkam. Bahkan tak bergerak sedikitpun. Melirik pun tidak. Ia enggan untuk tau siapa lelaki itu. Ia pun tak ingin berpaling dari indahnya jingga yang menghias mega kala itu.
“masihkah ingatan pedih itu merasuk jiwamu?” Lanjut lelaki itu. Pertanyaan itu kini menyadarkan dini. Ia menoleh. Seketika, hatinya remuk redam. Dadanya mulai sesak.
Dini hanya terdiam menghadap senja. Memandangi mentari yang kian tenggelam. Dia bungkam dengan berjuta khayalnya. Dan seketika butiran bening itu jatuh dari kelopak matanya yang indah. Angin senja yang berhembus kala itu membuat suasana kian sendu.
“bukankah sunset itu indah?”. sebaris kalimat itu membuyarkan tangis dini. Namun dini tetap bungkam. Bahkan tak bergerak sedikitpun. Melirik pun tidak. Ia enggan untuk tau siapa lelaki itu. Ia pun tak ingin berpaling dari indahnya jingga yang menghias mega kala itu.
“masihkah ingatan pedih itu merasuk jiwamu?” Lanjut lelaki itu. Pertanyaan itu kini menyadarkan dini. Ia menoleh. Seketika, hatinya remuk redam. Dadanya mulai sesak.
Namun ia tahan air matanya. Ia coba
tersenyum. Walaupun senyum itu hambar adanya.
“Bukankah kamu tau jawabanku?”
“Maaf”
“untuk apa?” tukas dini.
“untuk hari itu. Hari yang mungkin menyakitimu” jawab lelaki itu dengan nada penyesalan
“sudahlah Rio, lupakan semua itu. Aku tak ingin mengingatnya” balas dini
Dini berpaling. Ia tak sanggup melanjutkan perbincangan itu. Hatinya hancur. Ia ingin pergi. Tapi jemari lembut itu meraih tangannya. Menggenggamnya. Erat. Benar-benar erat.
“tolong, jangan pergi dariku Dini, tetaplah di sini bidadari senjaku” pinta lelaki itu. Tapi dini tetap meronta. Ia tak ingin terlihat cengeng di depan orang yang telah banyak menyakitinya. “untuk apa? bukankah dulu kamu yang memintaku pergi?” sahut dini. “tapi itu dulu din, sekarang…”. kalimat itu terpotong. Lelaki itu kini menarik dini dalam pelukannya.
“sekarang, aku ingin memintamu kembali Din” lanjutnya lagi.
Dini terdiam. Ia bungkam. Bibirnya seolah beku. Ia membisu dalam dekap malaikat hatinya.
“bisakah kau kembali untukku?”
Dini tetap bungkam. Ia ingin. Tetapi ia terlalu sakit dengan perlakuan malaikat hatinya itu. “haruskah aku menerimanya kembali tuhan? aku ingin tuhan. Tapi bukankah dia benar-benar keterlaluan? dia membuangku dan kini dia memintaku kembali? bukankah? haaaahhh… aku tak bisa tuhan” jerit dini dalam hati.
“Maaf, Rio” sahut dini lirih. Ia hampir menjatuhkan lagi air matanya. Tapi ia mencoba menahannya.
“maaf, aku tak bisa. Aku terlalu lelah, Rio. Aku mungkin tak akan terbangun lebih lama lagi” lanjutnya lagi
“ya, aku tau jawabanmu itu. Aku mungkin terlalu kejam bagimu. Aku dulu menyiakanmu, dan kini memintamu kembali.. aku memang kejam, dan aku memang tak pantas lagi menjaga dan menyayangimu kan Din?”
“Rio” sahut dini lirih.
“Bukankah kamu tau jawabanku?”
“Maaf”
“untuk apa?” tukas dini.
“untuk hari itu. Hari yang mungkin menyakitimu” jawab lelaki itu dengan nada penyesalan
“sudahlah Rio, lupakan semua itu. Aku tak ingin mengingatnya” balas dini
Dini berpaling. Ia tak sanggup melanjutkan perbincangan itu. Hatinya hancur. Ia ingin pergi. Tapi jemari lembut itu meraih tangannya. Menggenggamnya. Erat. Benar-benar erat.
“tolong, jangan pergi dariku Dini, tetaplah di sini bidadari senjaku” pinta lelaki itu. Tapi dini tetap meronta. Ia tak ingin terlihat cengeng di depan orang yang telah banyak menyakitinya. “untuk apa? bukankah dulu kamu yang memintaku pergi?” sahut dini. “tapi itu dulu din, sekarang…”. kalimat itu terpotong. Lelaki itu kini menarik dini dalam pelukannya.
“sekarang, aku ingin memintamu kembali Din” lanjutnya lagi.
Dini terdiam. Ia bungkam. Bibirnya seolah beku. Ia membisu dalam dekap malaikat hatinya.
“bisakah kau kembali untukku?”
Dini tetap bungkam. Ia ingin. Tetapi ia terlalu sakit dengan perlakuan malaikat hatinya itu. “haruskah aku menerimanya kembali tuhan? aku ingin tuhan. Tapi bukankah dia benar-benar keterlaluan? dia membuangku dan kini dia memintaku kembali? bukankah? haaaahhh… aku tak bisa tuhan” jerit dini dalam hati.
“Maaf, Rio” sahut dini lirih. Ia hampir menjatuhkan lagi air matanya. Tapi ia mencoba menahannya.
“maaf, aku tak bisa. Aku terlalu lelah, Rio. Aku mungkin tak akan terbangun lebih lama lagi” lanjutnya lagi
“ya, aku tau jawabanmu itu. Aku mungkin terlalu kejam bagimu. Aku dulu menyiakanmu, dan kini memintamu kembali.. aku memang kejam, dan aku memang tak pantas lagi menjaga dan menyayangimu kan Din?”
“Rio” sahut dini lirih.
Seketika suasana hening. Rio yang terdiam. Kini seolah menampakkan
penyesalannya. Tetes air matanya jatuh membasahi pasir putih yang
terbalut senja merona. Dini menatapnya. Ia seolah merasa berdosa atas
apa yang ia katakan dengan lelaki yang ia cinta itu.
“kamu menangis? apa aku menyakitimu?”
“tidak, Din. Aku tak apa, aku hanya menyesal. Mengapa dulu aku begitu bodoh melepasmu, padahal kamu wanita terbaik yang pernah hadir di hidupku setelah ibuku… tapi aku terlalu bodoh. Aku meninggalkanmu untuk bersama orang yang tak pernah mencintaiku dengan tulus. Seperti bidadari senjaku yang dulu selalu tulus memberiku rasa itu.. andai aku bisa mengulang semuanya, aku tak akan meninggalkanmu, Din.. aku mencintaimu. Dan aku akui aku menyesal..” jelas Rio.. dini yang mendengar setiap kalimat itu tak tahan lagi menahan air matanya. Ia menangis lagi. Lalu. Memeluk tubuh Rio dengan erat.
“kamu tau, aku tak pernah berhenti mencintaimu malaikat hatiku… aku selalu merindumu meski kamu menyakitiku, dan sampai kapanpun aku akan tetap mencintaimu.. tapi, maaf, aku tak bisa terus bersamamu. Aku tak mungkin lagi bertahan dengan penyakit yang terus menggerogoti tubuhku ini, Rio.. tapi, aku ingin kamu tau, bahwa cintaku ini tak akan pernah hilang untukmu.. meski maut menjemputku..” tukas Dini di antara senja yang kian redup. Dan menghitam.
“kamu menangis? apa aku menyakitimu?”
“tidak, Din. Aku tak apa, aku hanya menyesal. Mengapa dulu aku begitu bodoh melepasmu, padahal kamu wanita terbaik yang pernah hadir di hidupku setelah ibuku… tapi aku terlalu bodoh. Aku meninggalkanmu untuk bersama orang yang tak pernah mencintaiku dengan tulus. Seperti bidadari senjaku yang dulu selalu tulus memberiku rasa itu.. andai aku bisa mengulang semuanya, aku tak akan meninggalkanmu, Din.. aku mencintaimu. Dan aku akui aku menyesal..” jelas Rio.. dini yang mendengar setiap kalimat itu tak tahan lagi menahan air matanya. Ia menangis lagi. Lalu. Memeluk tubuh Rio dengan erat.
“kamu tau, aku tak pernah berhenti mencintaimu malaikat hatiku… aku selalu merindumu meski kamu menyakitiku, dan sampai kapanpun aku akan tetap mencintaimu.. tapi, maaf, aku tak bisa terus bersamamu. Aku tak mungkin lagi bertahan dengan penyakit yang terus menggerogoti tubuhku ini, Rio.. tapi, aku ingin kamu tau, bahwa cintaku ini tak akan pernah hilang untukmu.. meski maut menjemputku..” tukas Dini di antara senja yang kian redup. Dan menghitam.
Rio yang mendengar utaian kata itu terkejut. Ia benar-benar tak tau jika
selama ini bidadari senjanya itu sakit. Kenapa bisa ia tak tau? kenapa
bisa sampai selama itu dia tak pernah bertanya dan mengerti sedikitpun
dengan keadaan dini? bodohnya ia yang membiarkan bidadarinya itu sendiri
melawan penyakit ganas yang sampai saat ini terus menggerogoti tubuh
badadarinya. Dan kini ia baru tau. Bodoh. Bodoh. Bodoh. Kata itu terus
menari dalam fikiran Rio.
“jadi, selama ini kamu sakit?” tanya Rio meyakinkan.
“iya… dan sekarang, penyakit itu mulai menggerogoti saraf otakku. Ya, begitu kata dokter.. dan mungkin aku tak akn bertahan lebih lama lagi” jawab dini penuh ragu.
Jujur, Dini berat mengatakannya. Ia tak ingin malaikatnya itu semakin menyesal. Tapi, inilah yang harus ia lakukan. Ia harus mengakuinya.
“jadi, selama ini kamu sakit?” tanya Rio meyakinkan.
“iya… dan sekarang, penyakit itu mulai menggerogoti saraf otakku. Ya, begitu kata dokter.. dan mungkin aku tak akn bertahan lebih lama lagi” jawab dini penuh ragu.
Jujur, Dini berat mengatakannya. Ia tak ingin malaikatnya itu semakin menyesal. Tapi, inilah yang harus ia lakukan. Ia harus mengakuinya.
Rio yang mendengar penjelasan itu lagi-lagi terdiam. Ia bingung,
sedih, kecewa, marah dan takut. Apa nantinya ia akan bisa menjalaninya
hidup tanpa adanya bidadarinya itu? apa ia tak akan pernah menyesal
dengan semua yang ia lakukan pada dini? apa ia tak akan terus dihantui
oleh penyesalannya? pertanyaan demi pertanyaan itu terus muncul di
kepalanya.
“maaf, rasanya aku harus pergi. Lagi pula sunset sudah hilang, kau harus pulang…” lanjut dini lagi
“tapi…” jawab Rio terengah
“sudahlah, anggap saja hari ini tak pernah ada, Rio… aku rasa ini pertemuan terakhir kita.. selamat tinggal malaikat hatiku.. aku mencintaimu”
“maaf, rasanya aku harus pergi. Lagi pula sunset sudah hilang, kau harus pulang…” lanjut dini lagi
“tapi…” jawab Rio terengah
“sudahlah, anggap saja hari ini tak pernah ada, Rio… aku rasa ini pertemuan terakhir kita.. selamat tinggal malaikat hatiku.. aku mencintaimu”
Lambat Dini pun mulai beranjak. Meninggalkan Rio sendiri bersama
pedih dan berjuta sesalnya. Dini berjalan pelan. Menyusuri kelamnya
malam. Hingga bayangnya pun samar-samar dari pandangan rio. Dan.
Akhirnya.. bayangan indah bidadari senja itu pun benar menghilang dari
pandanagan Rio.
“selamat jalan bidadari senjaku.. aku tak akan pernah melupakanmu..” ucap Rio dalam isakkannya
“selamat jalan bidadari senjaku.. aku tak akan pernah melupakanmu..” ucap Rio dalam isakkannya
Dan sejak pertemuan itu. Meraka tak pernah bertemu lagi. Rio pun tak
pernah tau dimana dan bagaimana keadaan bidadarinya sekarang. Setelah ia
memutuskan untuk meninggalkan kota kenangannya itu. Dan menghilangkan
setiap penyesalannya. Namun tidak dengan kenangan pedih dan indah itu.
Baginya. Dini adalah memory kehidupan terindahnya. Rio juga meyakini
satu hal. Bahwa. Bidadari senjanya itu kini bahagia. Dan tak akan merasa
perihnya kehidupan lagi…
THE END
Senin, 09 Juni 2014
Resensi Novel - Harry Potter : Deathly Hallows Part 2
Category: Books
Genre: Literature & Fiction
Author: J. K. Rowling
Pengarang : J. K. Rowling
Judul asli : Harry Potter and the Deathly Hallows
Alur waktu : 1997-1998 dan 2017 pada epilog
Jumlah halaman : 608 (UK), 759 (US)
Judul asli : Harry Potter and the Deathly Hallows
Alur waktu : 1997-1998 dan 2017 pada epilog
Jumlah halaman : 608 (UK), 759 (US)
Harry Potter and the Deathly Hallows adalah buku ketujuh dan terakhir dari seri novel Harry Potter oleh
J. K. Rowling.
J. K. Rowling.
Deathly Hallows diluncurkan secara serentak di seluruh dunia di 93 negara[1], pada tanggal 21 Juli 2007, satu menit setelah tengah malam (00:01), British Summer Time.
Judul buku ini diumumkan pada 21 Desember 2006 melalui situs web Rowling, dan dikonfirmasikan tak lama kemudian oleh penerbitnya. [2] Rowling menyatakan bahwa seri terakhir ini berkaitan erat dengan buku sebelumnya, Harry Potter dan Pangeran Berdarah-Campuran, yang menurutnya “hampir seperti dua bagian dari satu novel”.[3] Rowling meninggalkan sebuah pernyataan yang ditandatangani, tertulis di sebuah patung dada pualam di Hotel Balmoral, Edinburgh, yang menyatakan;
“JK Rowling telah selesai menulis Harry Potter and the Deathly Hallows di ruangan ini (652) pada 11 Januari 2007.”[4]
Dalam situsnya pada 6 Februari 2007, Rowling menyatakan
“Walaupun saya menyukai setiap buku Potter sebelumnya, ‘Deathly Hallows’ adalah favorit saya, dan ini adalah sebuah cara yang sangat menyenangkan untuk menyelesaikan serial ini.”[5]
Buku ini mendapat predikat best-seller di Amazon dan Barnes and Noble hanya beberapa jam setelah tanggal peluncurannya diumumkan.[6]
Judul buku ini diumumkan pada 21 Desember 2006 melalui situs web Rowling, dan dikonfirmasikan tak lama kemudian oleh penerbitnya. [2] Rowling menyatakan bahwa seri terakhir ini berkaitan erat dengan buku sebelumnya, Harry Potter dan Pangeran Berdarah-Campuran, yang menurutnya “hampir seperti dua bagian dari satu novel”.[3] Rowling meninggalkan sebuah pernyataan yang ditandatangani, tertulis di sebuah patung dada pualam di Hotel Balmoral, Edinburgh, yang menyatakan;
“JK Rowling telah selesai menulis Harry Potter and the Deathly Hallows di ruangan ini (652) pada 11 Januari 2007.”[4]
Dalam situsnya pada 6 Februari 2007, Rowling menyatakan
“Walaupun saya menyukai setiap buku Potter sebelumnya, ‘Deathly Hallows’ adalah favorit saya, dan ini adalah sebuah cara yang sangat menyenangkan untuk menyelesaikan serial ini.”[5]
Buku ini mendapat predikat best-seller di Amazon dan Barnes and Noble hanya beberapa jam setelah tanggal peluncurannya diumumkan.[6]
Bagian di bawah ini mungkin akan membeberkan isi cerita yang penting atau akhir kisahnya.
Buku ketujuh diawali dengan Voldemort dan para Pelahap Mautnya di rumah Lucius Malfoy, yang merencanakan untuk membunuh Harry Potter sebelum ia dapat bersembunyi kembali. Meminjam tongkat sihir Lucius, Voldemort membunuh tawanannya, Profesor Charity Burbage, guru Telaah Muggle di Hogwarts, atas alasan telah mengajarkan subyek tersebut dan telah menganjurkan agar paradigma kemurnian darah penyihir diakhiri.
Harry telah siap untuk melakukan perjalanannya dan membaca obituari Albus Dumbledore; dan terungkaplah bahwa ayah Dumbledore, Percival, adalah seorang pembenci non-penyihir dan telah membunuh banyak Muggle, dan meninggal di Penjara Azkaban atas kejahatannya. Harry kemudian meyakinkan keluarga Dursley bahwa mereka harus segera meninggalkan rumah mereka untuk menghindarkan diri dari para Pelahap Maut. Keluarga Dursley kemudian pergi menyembunyikan diri dengan dikawal sepasang penyihir setelah sebelumnya Dudley melontarkan pengakuan bahwa ia peduli akan Harry.
Harry telah siap untuk melakukan perjalanannya dan membaca obituari Albus Dumbledore; dan terungkaplah bahwa ayah Dumbledore, Percival, adalah seorang pembenci non-penyihir dan telah membunuh banyak Muggle, dan meninggal di Penjara Azkaban atas kejahatannya. Harry kemudian meyakinkan keluarga Dursley bahwa mereka harus segera meninggalkan rumah mereka untuk menghindarkan diri dari para Pelahap Maut. Keluarga Dursley kemudian pergi menyembunyikan diri dengan dikawal sepasang penyihir setelah sebelumnya Dudley melontarkan pengakuan bahwa ia peduli akan Harry.
Bersama-sama dengan anggota Orde Phoenix, Harry kemudian pergi dari rumah Dursley ke The Burrow. Dalam perjalanan itu, Hedwig, burung hantu Harry, terbunuh oleh kutukan pembunuh; George Weasley kehilangan sebelah telinganya; Mad-Eye Moody dibunuh oleh Voldemort sendiri. Belakangan, Harry mendapatkan penglihatan mengenai pelariannya; tongkat sihirnya telah bereaksi dengan tongkat sihir pinjaman Voldemort, menghancurkannya, dan ia juga kemudian mendapatkan penglihatan ketika Voldemort menanyai Ollivander si pembuat tongkat sihir, mengenai mengapa hal itu dapat terjadi.
Beberapa hari kemudian, Menteri Sihir tiba di kediaman Weasley dan memberikan warisan Dumbledore untuk mereka: Delumintaor untuk Ron (alat seperti korek api yang dapat memadamkan cahaya); buku mengenai kisah anak-anak untuk Hermione; dan untuk Harry, pedang Godric Gryffindor dan snitch pertama yang ditangkap Harry. Namun demikian, pedang tersebut ditahan, karena menurut kementerian pedang tersebut bukanlah milik Dumbledore. Ketiganya berusaha mencari tahu apa dibalik ketiga benda yang diberikan kepada mereka itu. Sehari kemudian adalah hari pernikahan Fleur Delacour dan Bill Weasley.
Beberapa hari kemudian, Menteri Sihir tiba di kediaman Weasley dan memberikan warisan Dumbledore untuk mereka: Delumintaor untuk Ron (alat seperti korek api yang dapat memadamkan cahaya); buku mengenai kisah anak-anak untuk Hermione; dan untuk Harry, pedang Godric Gryffindor dan snitch pertama yang ditangkap Harry. Namun demikian, pedang tersebut ditahan, karena menurut kementerian pedang tersebut bukanlah milik Dumbledore. Ketiganya berusaha mencari tahu apa dibalik ketiga benda yang diberikan kepada mereka itu. Sehari kemudian adalah hari pernikahan Fleur Delacour dan Bill Weasley.
Setelah diberitakan bahwa Voldemort telah berhasil mengambil alih Kementerian Sihir; Harry, Ron, dan Hermione kemudian bersembunyi di Grimmauld Place nomor 12, rumah yang diwariskan Sirius Black kepada Harry. Ketiganya kemudian menyadari bahwa inisial R.A.B. pada liontin yang didapatkan Dumbledore dan Harry dalam buku keenam adalah Regulus Arcturus Black, adik Sirius. Mereka mulai mencari Horcrux yang dicuri Regulus di rumah keluarga Black itu. Dari Kreacher, mereka mengetahui bahwa ia telah membantu Regulus untuk mendampingi Voldemort menempatkan Horcrux berbentuk liontin itu di gua. Ketika Regulus merasa kecewa dengan Dumbledore, ia memerintahkan Kreacher untuk kembali ke gua dan menukar liontin dengan yang palsu. Regulus terbunuh dalam proses itu. Pada akhirnya, mereka bertiga menyadari bahwa Mundungus Fletcher telah mencuri liontin tersebut dan memberikannya kepada Dolores Umbridge.
Setelah selama satu bulan memata-matai Kementerian Sihir, ketiganya berhasil mengambil Horcrux dari Umbridge. Dalam prosesnya, tempat persembunyian mereka diketahui dan terpaksa melarikan diri ke daerah terpencil, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dan tidak dapat lama tinggal di suatu tempat.
Dalam waktu beberapa bulan berpindah-pindah, mereka mendengar bahwa pedang Godric Gryffindor sebenarnya adalah palsu, dan ada yang melakukan sesuatu terhadap pedang aslinya. Dari Phineas Black, Harry mendapatkan bahwa pedang itu terakhir kali digunakan Dumbledore untuk menghancurkan salah satu Horcrux, Cincin Gaunt. Ron kemudian berselisih paham dengan Harry, dan pergi meninggalkan Harry dan Hermione. Harry dan Hermione kemudian pergi ke Godric’s Hollow untuk mencari tahu apakah Dumbledore telah meninggalkan pedang itu di sana.
Di Godric’s Hollow, keduanya mengunjungi tempat pemakaman keluarga di mana keluarga Potter dan Dumbledore dikuburkan. Di Godric’s Holow, mereka juga menemui Bathilda Bagshot, seorang kawan lama Dumbledore yang mengarang buku Sejarah Sihir. Di rumah Bagshot mereka menemukan gambar penyihir hitam Grindelwald, sanak Bagshot, yang pada masa lalu adalah kawan masa kecil Albus Dumbledore. Namun demikian, ternyata mereka terperangkap, karena “Bagshot” itu merupakan penjelmaan ular Voldemort, Nagini. Mereka berhasil melarikan diri dari Voldemort, tetapi tongkat sihir Harry hancur dalam kejadian itu.
Dalam waktu beberapa bulan berpindah-pindah, mereka mendengar bahwa pedang Godric Gryffindor sebenarnya adalah palsu, dan ada yang melakukan sesuatu terhadap pedang aslinya. Dari Phineas Black, Harry mendapatkan bahwa pedang itu terakhir kali digunakan Dumbledore untuk menghancurkan salah satu Horcrux, Cincin Gaunt. Ron kemudian berselisih paham dengan Harry, dan pergi meninggalkan Harry dan Hermione. Harry dan Hermione kemudian pergi ke Godric’s Hollow untuk mencari tahu apakah Dumbledore telah meninggalkan pedang itu di sana.
Di Godric’s Hollow, keduanya mengunjungi tempat pemakaman keluarga di mana keluarga Potter dan Dumbledore dikuburkan. Di Godric’s Holow, mereka juga menemui Bathilda Bagshot, seorang kawan lama Dumbledore yang mengarang buku Sejarah Sihir. Di rumah Bagshot mereka menemukan gambar penyihir hitam Grindelwald, sanak Bagshot, yang pada masa lalu adalah kawan masa kecil Albus Dumbledore. Namun demikian, ternyata mereka terperangkap, karena “Bagshot” itu merupakan penjelmaan ular Voldemort, Nagini. Mereka berhasil melarikan diri dari Voldemort, tetapi tongkat sihir Harry hancur dalam kejadian itu.
Dalam pelarian mereka, Harry akhirnya menemukan bahwa pedang Godric Gryffindor tersembunyi di sebuah kolam beku di tengah sebuah hutan. Ia menyelam ke dalamnya dan mendapati pedang dan kalung liontin Horcrux Voldemort. Kalung itu mencoba mencekik Harry dan hampir menenggelamkannya hingga mati kalau tidak ditolong oleh Ron yang kembali. Keduanya menghancurkan Horcrux dengan pedang itu.
Ketiganya kemudian berbicara kepada Xenophilius Lovegood, ayah Luna Lovegood, dan menanyakan kepada mereka mengenai lambang Grindelwald yang telah berkali-kali muncul selama perjalanan mereka. Di rumah Lovegood, Harry, Ron, dan Hermione mendapatkan kisah penyihir kuno mengenai tiga bersaudara yang mengalahkan kematian, dan masing-masing mendapatkan benda sihir sebagai hasilnya – tongkat sihir yang tak terkalahkan (Elder Wand-tongkat sihir tetua), batu sihir yang dapat menghidupkan kembali yang telah mati (Resurrection Stone-batu kebangkitan) , dan Jubah Gaib (jubah tembus pandang) yang tidak lekang oleh waktu. Harry menyadari bahwa jubah yang dimilikinya adalah adalah Jubah Gaib, dan segera menemukan bahwa Lovegood telah berkhianat dan menyerahkan mereka ke Kementerian. Luna, putrinya, telah ditawan dan Xenophilius berpikir untuk menyerahkan Harry Potter sebagai ganti tawanan. Ketiganya meloloskan diri dan berpikir untuk mengumpulkan ketiga benda
sihir Deathly Hallows, untuk mengalahkan Voldemort.
Harry, Ron, dan Hermione kemudian tertangkap dan dibawa ke rumah Malfoy. Di sana, Hermione disiksa dan diinterogasi oleh Bellatrix Lestrange untuk mengetahui bagaimana mereka memperoleh pedang Godric Gryffindor, karena ia berpikir bahwa mereka telah mencurinya dari lemari besinya di Gringotts. Di bawah tanah, Harry dan Ron dipenjarakan bersama-sama dengan Dean Thomas, goblin Griphook, pembuat tongkat sihir Ollivander, dan Luna Lovegood. Harry berusaha mencari pertolongan dan Dobby muncul untuk menyelamatkannya. Dalam usaha meloloskan diri, mereka dihadang Wormtail yang kemudian terbunuh karena tercekik oleh tangan perak Wormtail yang dibuat Voldemort tanpa berhasil ditolong oleh Ron dan Harry. Mereka berdua kemudian menolong Hermione dengan bantuan Dobby, yang tewas dibunuh oleh Bellatrix.
sihir Deathly Hallows, untuk mengalahkan Voldemort.
Harry, Ron, dan Hermione kemudian tertangkap dan dibawa ke rumah Malfoy. Di sana, Hermione disiksa dan diinterogasi oleh Bellatrix Lestrange untuk mengetahui bagaimana mereka memperoleh pedang Godric Gryffindor, karena ia berpikir bahwa mereka telah mencurinya dari lemari besinya di Gringotts. Di bawah tanah, Harry dan Ron dipenjarakan bersama-sama dengan Dean Thomas, goblin Griphook, pembuat tongkat sihir Ollivander, dan Luna Lovegood. Harry berusaha mencari pertolongan dan Dobby muncul untuk menyelamatkannya. Dalam usaha meloloskan diri, mereka dihadang Wormtail yang kemudian terbunuh karena tercekik oleh tangan perak Wormtail yang dibuat Voldemort tanpa berhasil ditolong oleh Ron dan Harry. Mereka berdua kemudian menolong Hermione dengan bantuan Dobby, yang tewas dibunuh oleh Bellatrix.
Harry dan kedua sahabatnya kemudian berusaha mencari rencana baru. Ia menanyai Ollivander mengenai Elder Wand dan mendapati bahwa pemilik terakhirnya adalah Dumbledore. Ia berusaha untuk mencegah Voldemort mengambilnya dari makam Dumbledore. Dibantu Griphook, Hermione menyamar sebagai Bellatrix Lestrange dan bersama-sama Harry dan Ron memasuki lemari besi Bellatrix di Bank Gingrott’s. Di sana mereka menemukan satu lagi Horcrux, piala Hufflepuff. Griphook kemudian mengkhianati mereka dan melarikan diri dan mencuri pedang Godric Gryffindor. Harry, Ron, dan Hermione berhasil melarikan diri, tetapi Voldemort menyadari bahwa mereka mencari Horcrux-Horcruxnya.
Harry mendapatkan penglihatan segera setelah pelarian mereka; ia dapat melihat melalui mata Voldemort dan mengetahui pikirannya. Voldemort telah mendatangi tempat-tempat Horcurxnya disembunyikan dan mengetahui bahwa mereka telah lenyap dan hancur. Secara ceroboh, Voldemort mengungkapkan bahwa Horcrux terakhir berada di Hogwarts. Ketiganya segera pergi ke Hogsmeade untuk mencari jalan masuk ke sekolah Hogwarts. Di Hogsmeade, mereka disudutkan oleh para Pelahap Maut dan diselamatkan oleh Aberforth Dumbledore. Aberforth membuka jalan terowongan ke Hogwarts di mana mereka disambut oleh Neville Longbottom. Setelah menyelamatkan jiwa Draco Malfoy, Harry menemukan Mahkota Ravenclaw tersembunyi di Kamar Kebutuhan dan benda itu dihancurkan.
Harry mendapatkan penglihatan segera setelah pelarian mereka; ia dapat melihat melalui mata Voldemort dan mengetahui pikirannya. Voldemort telah mendatangi tempat-tempat Horcurxnya disembunyikan dan mengetahui bahwa mereka telah lenyap dan hancur. Secara ceroboh, Voldemort mengungkapkan bahwa Horcrux terakhir berada di Hogwarts. Ketiganya segera pergi ke Hogsmeade untuk mencari jalan masuk ke sekolah Hogwarts. Di Hogsmeade, mereka disudutkan oleh para Pelahap Maut dan diselamatkan oleh Aberforth Dumbledore. Aberforth membuka jalan terowongan ke Hogwarts di mana mereka disambut oleh Neville Longbottom. Setelah menyelamatkan jiwa Draco Malfoy, Harry menemukan Mahkota Ravenclaw tersembunyi di Kamar Kebutuhan dan benda itu dihancurkan.
Di Shrieking Shack, mereka mendapati Voldemort membunuh Severus Snape dengan tujuan untuk mentransfer kekuatan Elder Wand kepada dirinya sendiri. Dalam sekaratnya, Snape memberikan memorinya kepada Harry. Dari memori itu terungkap bahwa Snape berada di sisi Dumbledore, didorong dengan cinta seumur hidupnya kepada Lily Potter. Snape telah diminta Dumbledore untuk membunuh dirinya jika situasinya mengharuskan demikian; karena bagaimanapun juga hidupnya tidak akan lama lagi akibat kutukan yang terdapat di Horcrux Cincin Gaunt. Selanjutnya, terungkap pula bahwa Harry adalah Horcrux terakhir Voldemort, dan ia harus mati juga sebelum Voldemort dapat dibunuh. Pasrah akan nasibnya, Harry mengorbankan diri dan Voldemort melancarkan kutukan untuk membunuhnya. Tapi alih-alih membunuh Harry, kutukan itu malah menghancurkan bagian dari jiwa Voldemort yang terdapat di tubuhnya. Pada akhirnya, setelah Nagini dibunuh oleh Neville, Voldemort kemudian terbunuh setelah
mencoba menggunakan Kutukan pembunuh Avada Kadavra terhadap Harry. Kutukan itu berbalik menyerang Voldemort sendiri oleh Elder Wand.
mencoba menggunakan Kutukan pembunuh Avada Kadavra terhadap Harry. Kutukan itu berbalik menyerang Voldemort sendiri oleh Elder Wand.
Dalam kisah di akhir buku, pada tahun 2017, 19 tahun setelah Pertempuran di Hogwarts, Harry dan Ginny Weasley telah memiliki tiga anak bernama James, Albus Severus, dan Lily. Neville Longbottom telah menjadi guru Herbologi di Hogwarts. Ron dan Hermione telah memiliki dua anak bernama Rose dan Hugo. Draco Malfoy memiliki anak bernama Scorpius. Mereka seluruhnya bertemu di stasius kereta api King’s Cross, untuk mengantar anak-anak mereka bersekolah ke Hogwarts. Di sana diungkapkan bahwa bekas luka Harry tidak pernah sakit lagi setelah kekalahan Pangeran Kegelapan.
Apa ada yg salah?
Malam
ini jam 2:37 saya membuat tulisan yang berdasarkan pemikiran sendiri, tentang
kesalahan pada sistem otak yang diderita manusia, entah benar pemikiran saya,
entah salah apa yang saya pikirkan, ini mencakup tentang politik?, sebelum jam
ini saya mengadakan perdebatan ringan antara mahasiswa-mahasiswa dikelas,
karena sebelumnya sudah terjadi perdebatan antara capres-capres indonesia,
sebagai warga yg tidak ingin merasakan 5 tahun tanpa perubahan saya melakukan
hal ini berdasarkan sudut pemikiran saya sendiri, pertama ada teman saya yg
tidak pernah merasakan kehadiran politik dihidupnya, menurutnya politik itu penipuaan?, lalu saya berfikir
kenapa dia harus mengungkapkan pernyataan seperti? Apakah dia tidak tau siapa
yg memimpin dia? Atau dia tidak pernah merasakan kehadiaran barang mewah dari
luar negeri yg dia dapatkan? Ataukah dia buta apa yg dibuat oleh politik?,
mungkin politik dinegeri kita memang sangat mengelisahkan, tetapi jangan
terlalu sering menyimpulkan dari sis padangan negatife suatu hal, iya mungkin
politik kita mengelisahkan, tetapi kenapa kalian hanya bisa menyalahkan? Ketika
ada pihak yg salah kalian tinggalkan, kalian lebih memilih pihak baru yg tidak
bersalah dikarenakan kalian sudah menanggap pihak lama sudah tidak bisa
dipercaya? Mungkin bakal panjang sekali jika kita terus-menerus bertindak sama
seperti sikap egois kita. Lalu yang 2, teman saya bilang kenapa harus orang yg
mempunyai tokoh besar yang selalu dibahas? Teman seharusnya anda tau, mereka
menjadi tokoh besar dikarenakan oleh media? Sebagai contoh, kau tau mandala? Iya
manusia yang menentang rasisme? Siapa yang buat diterkenal? Media kawan? Jika dia
tidak terkenal dikoran , diinternet, ditv? Apakah kita tau bahwa ada orang yang
menentang rasis didunia ini? apakah dia mau menjadi orang yg terkenal? Tidak media
memaksa mereka untuk menjadi terkenal. Dan yg 3, ini masalah tentang hitler? Temen
saya sangat suka saat pemerintahan hitler dikarenakan ketegasaannya? Lalu teman
saya yg satu lagi bilang ketika ketegasaan berbuah perperangan? Apakah itu yg
dimaksud dengan arti sejati ketegasaan? Ayolah teman, didunia ini tidak ada yg
suka saat pemerintahan hitler, walapun bangsa kita tidak terkena imbasnya, tapi
coba sekarang kalian bayangan jika sampai saat ini nazi masih memerintah dunia?
Jika ada peraturan buang sampah sembarang dilangar? Mungkin kapasitas manusia
diindonesia berkurang, mungkin itu bagus, tapi jika yang melanggar orang yg
kita sayangi? Apakah kalian rela untuk merelakan belahan hidup kalian, atau
keluarga sanak saudara kalian mati Cuma gara-gara membuang sampah sembaranga?.
walapun yg terakhir rada gak nyambung ya nyambung-nyambungin lah. Kita mempunyai
pendapat yg berbeda alangkah baiknya jika perbedaan menjadikan kita satu
tujuaan, kita mempunyai banyak kelemahan, dan kekuataan, alangkah agung jika
kita tidak saling meyerang. Hidup ini mudah jika kau beranggapan mudah, sulit
jika kau tidak lagi mengenal hidup ini mudah.
Rabu, 04 Juni 2014
Menilisik Kekuatan Squad Brazil Di Piala Dunia 2014
Sudah tak terasa piala dunia 2014 dibrazil semakin mendekat, Semua negara-negara dari penjuru dunia berkumpul untuk membuktikan siapa yang paling hebat dalam ajang olahraga sepakbola ini,mereka datang dengan kekuatan penuh yang ada didalam squad negera mereka, sebagai tuan rumah yang tak mau malu dikandang sendiri, mereka juga sudah mempersiapkan kekuatan yang sudah dibuat sejak lama oleh pelatih Luiz Felipe Scolari. dan saya akan membahas kekuatan dalam squad Timmnas Brazil dipiala dunia 2014 ini.
1.Goalkeepers: Julio Cesar, Jefferson, Victor.
DiBagian Goalkeepers/Penjaga gawang, dihuni dari 3 orang diatas, tetapi sepertinya Pelatih Scolari lebih banyak menggunakan Julio Cesar sebagai pemain inti, kita sudah tak asing dengan nama Julio Cesar, kiper 3 terbaik pada tahun 2009 ini, masih bisa meyakinkan kepada pelatih bahwa dia masih tidak berbeda selang 5 tahun yang lalu.dan kiper cadangan juga bagus maap saya hanya tau julio cesar.
2.Defenders: David Luiz, Thiago Silva, Dante, Henrique, Maicon, Dani Alves, Marcelo, Maxwell.
Mungkin dibagian banyak sekali pemain terkenal seperti David Luiz, Dani Alves, Marcelo dan Dante, Dalam 4 tahun terakhir mereka menunggangi team-team yg menjuarai liga Champions, dengan kombinasi dari mereka ber4 mungkin kemungkinan gawang julio cesar sering cleansheet(tidak pernah kebobolan).
3.Midfielders: Luiz Gustavo, Paulinho, Fernandinho, Ramires, Oscar, Willian Hernanes.
Dan dilini tengah diisi oleh para gelandang-gelandang kuat dan energic, kita bisa liat ada paulinho, Oscar, Fernandinho, mereka semua adalah kekuatan lini tengah dengan passing yang bagus, possition yang cukup menawan, dan skill mereka yang mampu menunjuang keahlian sebagai lini tengah brazil.
4.Forwards: Hulk, Bernard, Neymar, JO, Fred.
Sampai kebagain Penyerang, Para manusia yang sering muncul pada perebutan penghargaan Top-Scores, Hulk kalau kalian tidak kenal dia, coba searching diyoutube dan tonton semua gol-gol kelasnya dia yang sering menjebol gawang dengan tendangan-tendangan keras, Neymar/Wonder kids, siapa tak kenal dia yang lebih suka menari ditengah lapangan, dan cara nya dia melewati semua lini perlini team musuh, dengan kemampuan drible yang sangat menajubkan.dll
Itulah semua kekuatan para squad Timmnas Brazil 2014, kita tau mereka sangat kuat, tapi kita tidak tau apa yang akan mereka perbuat. kita hanya bisa mengira-ngira apakah timmnas brazil bisa mendominasi piala dunia yang bergulir dinegaranya sendiri, atau negara yang lain yang sudah lebih matang dalam persiapaan Piala dunia tahun ini.
1.Goalkeepers: Julio Cesar, Jefferson, Victor.
DiBagian Goalkeepers/Penjaga gawang, dihuni dari 3 orang diatas, tetapi sepertinya Pelatih Scolari lebih banyak menggunakan Julio Cesar sebagai pemain inti, kita sudah tak asing dengan nama Julio Cesar, kiper 3 terbaik pada tahun 2009 ini, masih bisa meyakinkan kepada pelatih bahwa dia masih tidak berbeda selang 5 tahun yang lalu.dan kiper cadangan juga bagus maap saya hanya tau julio cesar.
2.Defenders: David Luiz, Thiago Silva, Dante, Henrique, Maicon, Dani Alves, Marcelo, Maxwell.
Mungkin dibagian banyak sekali pemain terkenal seperti David Luiz, Dani Alves, Marcelo dan Dante, Dalam 4 tahun terakhir mereka menunggangi team-team yg menjuarai liga Champions, dengan kombinasi dari mereka ber4 mungkin kemungkinan gawang julio cesar sering cleansheet(tidak pernah kebobolan).
3.Midfielders: Luiz Gustavo, Paulinho, Fernandinho, Ramires, Oscar, Willian Hernanes.
Dan dilini tengah diisi oleh para gelandang-gelandang kuat dan energic, kita bisa liat ada paulinho, Oscar, Fernandinho, mereka semua adalah kekuatan lini tengah dengan passing yang bagus, possition yang cukup menawan, dan skill mereka yang mampu menunjuang keahlian sebagai lini tengah brazil.
4.Forwards: Hulk, Bernard, Neymar, JO, Fred.
Sampai kebagain Penyerang, Para manusia yang sering muncul pada perebutan penghargaan Top-Scores, Hulk kalau kalian tidak kenal dia, coba searching diyoutube dan tonton semua gol-gol kelasnya dia yang sering menjebol gawang dengan tendangan-tendangan keras, Neymar/Wonder kids, siapa tak kenal dia yang lebih suka menari ditengah lapangan, dan cara nya dia melewati semua lini perlini team musuh, dengan kemampuan drible yang sangat menajubkan.dll
Itulah semua kekuatan para squad Timmnas Brazil 2014, kita tau mereka sangat kuat, tapi kita tidak tau apa yang akan mereka perbuat. kita hanya bisa mengira-ngira apakah timmnas brazil bisa mendominasi piala dunia yang bergulir dinegaranya sendiri, atau negara yang lain yang sudah lebih matang dalam persiapaan Piala dunia tahun ini.
Jumat, 28 Maret 2014
Resensi Buku The Hunger Games
RESENSI THE HUNGER GAMES:
Judul: The Hunger Games
Penulis:
Suzanne Collins
Penerjemah:
Hetih Rusli
Penerbit:
Gramedia
Cetakan:
Oktober 2009
Tebal:
408 Halaman
Membunuh
atau dibunuh. Itulah aturan sederhana dari acara tahunan Hunger Games. Di suatu
masa depan, Amerika Utara musnah lalu berdirilah negara Panem dengan Capitol
sebagai ibu kota. Awalnya, Capitol dikelilingi 13 distrik. Namun, suatu ketika
terjadi pemberontakan melawan Capitol dan berakibat musnahnya Distrik 13.
Sebagai pengingat akan kekuasaan ibu kota, Capitol mengadakan acara televisi
The Hunger Games setiap tahun di mana satu anak laki-laki dan satu anak
perempuan berumur 12 hingga 18 tahun dari setiap distrik dipilih untuk
bertarung sampai mati. Dua puluh empat peserta setiap tahun dan hanya akan ada
satu pemenang. Acara tersebut disiarkan live di seluruh Panem.
Katniss
Everdeen, 16, adalah gadis yang tinggal di Distrik 12 bersama ibu dan adik
perempuannya, Primrose Everdeen. Distrik 12 mendapat jatah sebagai produsen
batubara. Sejak kematian ayahnya dalam ledakan di tambang, Katniss mengambil
alih sebagai kepala keluarga. Setiap hari ia berburu bersama sahabat
laki-lakinya, Gale. Pada saat pengambilan undian Hunger Games ke-74, nama
Primrose terpilih sebagai peserta. Secara spontan, Katniss bersedia
menggantikan posisi adiknya. Bersama anak laki-laki terpilih dari distrik 12
bernama Peeta Mellark, Katniss menyuguhkan acara The Hunger Games yang tak
terlupakan untuk warga Panem.
Alur
cerita novel ini tergolong sederhana. Yang membuat The Hunger Games menarik
adalah karakter tokoh dan detil aksi yang intens. Katniss adalah pemburu yang
berpengalaman, akrab dengan alam, dan sangat mandiri. Negara Panem melarang
perburuan di Distrik 12 sehingga wilayah itu dikelilingi pagar berarus listrik.
Namun Katniss dan Gale selalu lolos dan berhasil membawa hasil buruan untuk
dimakan atau ditukar dengan kebutuhan lain untuk keluarga mereka. Keahlian
berburu dan pengalaman Katniss lah yang membuat jalan cerita saat pertarungan
menjadi menarik.
Selain
aksi, novel ini mengangkat kehidupan pribadi Katniss untuk ditonjolkan pada
sisi drama. Apalagi novel ini bertutur menggunakan sudut pandang Katniss.
Penulis menyoroti peran Katniss sebagai kepala keluarga di usia belia dan rasa
sayangnya kepada Prim, si bungsu. Begitu juga dengan keraguan perasaan Katniss
terhadap Gale. Ditambah lagi dengan pengakuan Peeta yang ternyata menyukai
Katniss sejak hari pertama sekolah. Hubungan Katniss-Peeta banyak diolah sejak
acara The Hunger Games dimulai. Hubungan ini pula yang membuat pembaca
mengira-ngira motivasi Peeta yang sesungguhnya.
Edisi
terjemahan dari Gramedia dikerjakan dengan baik. Alih bahasanya mulus dan minim
typo. Sampulnya mengadopsi versi asli yang menurut saya kurang eye catching. The Hunger
Games adalah buku pertama dari trilogi. Sekuelnya adalah Catching Fire dan
Mockingjay. Penulisnya, Suzanne Collins mengategorikan novel ini untuk konsumsi Young Adult. Sebelum menulis The Hunger
Games, Collins bekerja untuk Nickelodeon. Novel ini meraih berbagai penghargaan
dan menjadi New York Times bestseller. Adaptasi film The Hunger Games
dijadwalkan akan rilis pada Maret 2012 dengan Jennifer Lawrence sebagai
Katniss.
Hal
yang patut dicatat dalam novel ini adalah penulis berhasil menyajikan dunia
baru, tanpa penyihir, naga, ksatria, dan lain sebagainya. Terasa menyegarkan
mengingat setelah era Harry Potter, dunia perbukuan dibanjiri cerita fantasi
dengan negeri antah berantah. Di novel ini hanya ada anak-anak yang diuji
ketangguhan dan kreativitasnya untuk bertahan hidup. Mengerikan memang, namun
idenya keren, alurnya tegang dari awal hingga akhir, dan membuat saya sulit
meletakkan buku ini sebelum selesai. Oh ya, saya juga menyukai nama-nama
karakternya yang unik.
Langganan:
Postingan (Atom)


